Selasa, 28 September 2010

BAPTIS ANAK


Oleh: J.K.Iroth.
Untuk memahami dasar yang dipakai oleh gereja yang mempraktekan baptis anak, kita perlu mengetahui rahasia rohani yang digambarkan oleh upacara yang diperintahkan oleh Tuhan itu (Yohanes Calvin). Dalam Kolose 2:11,12, menjelaskan bahwa sunat dalam Perjanjian Lama diganti oleh baptis (Charles Christiano). Untuk itu perlu menyelidiki perbedaan dan persamaan yang terdapat pada kedua tanda tersebut. Yang sama pada kedua tanda tersebut adalah janji Anugrah, bahwa Allah menjadi Bapa kita, pengampunan dosa dan hidup yang kekal. Hal yang digambarkan juga sama, yaitu kelahiran kembali. Oleh sebab itu, tidak ada perbedaan dalam rahasia batiniah yang harus menjadi titik tolak dalam setiap penilaian mengenai kekuatan dan sikap khas sakramen-sakramen. Yang tidak sama adalah upacara lahiriah. Jadi apa yang terjadi dalam sunat, berlaku juga dalam baptisan, kecuali uapacara lahiriahnya (calvin).
Demikian juga kalau kita menghayati keutuhan keluarga sebagai satu organism, maka dalam Alkitab, keselamatan dan janji Anugrah Allah berlaku bagi “Kamu dan anak-anakmu” (Kisah 2:39). Berita ini akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu (Kisah 11:14 bnd. Yesaya 59:21; Keluaran 20:5-6). Bahkan berkat iman satu orang, yaitu Abraham; “Semua kaum di muka bumi mendapat berkat”. Kita melihat begitu besar dan luasnya kekuasaan satu orang yang percaya! (Volkhard Scheunemann). Di dalam Ezra 9:2 disebutkan bahwa anak-anak orang Yahudi “Benih yang kudus”. Sebab mereka telah dijadikan ahli waris Perjanjian. Dengan demikian mereka dibedakan dari anak-anak orang kafir. Maka dengan alasan yang sama anak-anak orang Kristen dianggap kudus, walaupun hanya seorang dari orang tua mereka yang merupakan orang yang percaya (I Korintus 7:14). Jika Tuhan setelah mengadakan perjanjian dengan Abraham, kemudian menyuruh memetraikan di dalam anak-anak kecil di dalam sakramen lahiria (Kejadian 17:12), maka sekarang seharusnya orang Kristen memetraikan anak-anaknya dengan baptis (Charles Christiano). Atas dasar perjanjian baptisan yaitu tanda perjanjian itu, mereka juga harus dimasukkan ke dalam gereja Kristen, dan dibedakan dari anak orang yang tidak percaya (Katekismus Heidelberg). Baptis anak, mengakui status anak dalam rumah tangga Kristen. Mereka adalah anak-anak orang tua Kristen. Mereka dimetraikan dengan baptisan sebagagai pewaris janji-janji Allah. Dimetraikan dengan baptisa sebagai anggota tubuh Kristus. Menjadi anak-anak Allah.
Baptis memberi status sebagai anggota dalam gereja. Sebagaimana mereka diakui sebagai anggota di dalam rumah tangga. Akan tetapi keanggotaannya semata-mata karena keanggotaan orang tua. Keanggotaan mereka bersifat tidak langsung, menanti saatnya dengan menyambut “Keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (II Timotius 3:15), mereka beralih pada keanggotaan yang langsung. Alkitab tidak mengenal “cucu Allah” melainkan “anak-anak Allah (Yohanes 1:12-13), yang berarti bahwa anak-anak orang tua Kristen harus “dituntun” (II Timotius 3:15) dari iman tidak langsung (karena melalui dan masih bergantung pada orang tua) ke pada iman yang langsung kepada Allah Bapa, Anak (Juru selamat Yesus Kristus) dan Roh Kudus). Iman mereka yang tadinya disusui orang tuanya, harus dilepas supaya mereka dapat berdoa dan makan Firman Tuhan sendiri dan menghayati persekutuan yang langsung dengan-Nya (I Korintus 1:9; Efesus 3:16-17; 1 Yohanes 1:3-7). Bandingkan juga dengan amanat Yosua : “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!” (Yosua 24:16) (V. Scheunemann). Sebab itu menurut J. Verkuil: “Baptis anak merupakan panggilan melalui orang tua untuk bergumul dengan Allah dalam iman.” Dalam baptisan anak, menurut K. Riedel, juga mengingatkan kepada jemaat, bahwa jemaat ikut bertanggung jawab atas baptisan pada anak itu supaya anak itu terpelihara dengan pengajaran yang sopan dan nasehat Tuhan (Efesus 6:4). “Karena itu dalam satu Roh kita sudah dibaptiskan menjadi satu tubuh” (I Korintus 12:13).  
Charles Christiano mengatakan, Meskipun di dalam baptis anak, iman bukan menjadi dasar pokok baptisan, akan tetapi soal iman juga diperhitungkan. Melalui baptisan itu, jalan iman terbuka lebar bagi anak-anak orang beriman. Karena dengan baptisannya, hidup anak ini harus ditandai dengan  baptisan bukan imannya sendiri melainkan iman orang tuanya. Melalui iman orang tuanya, anak itu dihubungkan dengan perjanjian Allah dan dengan perjanjian-Nya. Anak itu ditanamkan di dalam Kristus, karena orang tuanya ditanamkan di dalam Kristus (Roma 11:16).
Sebagai imam-imam Perjanjian Baru (I Petrus 2:9), maka orang tua terpanggil untuk mewakili dan mendoakan seisi rumah tangga dan tiap anak di hadapan Allah. Doa itu merupakan iman syafaat (doa yang menggantikan/mewakili). Bandingkan dengan doa Abraham untuk Sodom dan Gomora (Keadian 18:23-33); Doa Musa untuk Israel, waktu Musa menyatakan kesediaannya untuk namanya dihapuskan dari kitab Alhayat ganti umat yang murtat (Kejadian 32:31-34; Bilangan 13:20); Yesus mendoakan Petrus, agar jangan gugur dalam penampilan/pengujian iman (Lukas 33:31-32), bahkan Yesus mendoakan untuk pembunuhnya-Nya: “Karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” Lukas 23:34; Kisah 7:60). Doa Paulus untuk jemaat pada siang dan malam (Filipi 1:2-11). Keslamatan di sini merupakan hasil tindakan dan doa yang menggantikan (hasil tindakan syafaat dan doa syafaat). Dalam kehidupan sehari-hari orang tua banyak menggantikan anak, mengatur waktu tidur dan bangun tidur, mengatur sandang dan pangan, pergaulan anak-anak. Demikian juga dalam hal keselamatan anak tidak dibiarkan sendiri, melainkan orang tua bertindak menggantikan anak. Iman syafaat yang menggantikan anak; iman orang tua, ibu/bapa serani dan iman jemaat, pada saat anak dibaptis maksudnya menuju pada iman anak itu sendiri.
Pengakuan orang tua melandasi dan mendahului pengakuan anak. Pengakuan anak pada baptisannya, baru mencapai tujuannya setelah meningkat/mencapai dewasa. Dengan demikian maka baptisan anak merupakan suatu proses. Juga baptis anak member status sebagai anggota jemaat kepada anak, akan tetapi kewajiban tergantung pada orang tua (V. Scheunemann). Baptis anak juga merupakan panggilan kepada anak itu sendiri, agar sesudah anak itu dewasa, supaya menyerahkan diri dengan iman yang sejati dan dengan kasih yang besar kepada Tuhan yang menyaksikan waktu anak itu dibaptis (J. Verkuil). Kemudian sesudah anak itu dewasa, baptisan merupakan dorongan besar untuk sungguh-sungguh berusaha memuja Allah, yang sudah menerima anak itu sebagai anak_nya melalui pengangkatan yang resmi, sebelum sanggup karena masih mudah) mengakui Dia sebagai Bapa mereka (Y. Calvin). Baptis anak itu juga memanggil anak ke dalam jemaat, di mana Roh Kudus bekerja dan diterima melalui pemberitaan Firman, dan di mana kelahiran baru terjadi. Sehingga baptis anak membuka jalan untuk kelahiran baru, yang terjadi pada waktu itu masuk iman dan percaya sendiri, dari pengakuan orang tua kepada pengakuan anak dankepada kesadaran anak akan dosanya. Sebab tanpa berseru sendiri (Roma 10:13) dan memanggi (Kisah 22:16) nama Tuhan dan tanpa pengakuan akan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat (bnd. Yohanes 20:28, pengakuan Thomas), maka baptis anak belum sampai pada tujuan dan dengan demikian belum lengkap. Baptis anak tidak mencetak orang Kristen, atau baptis anak tidak menjadikan calon Kristen. Jadi baptis anak dapat disifatkan sebagai baptisan panggilan (V. Scheunemann). Oleh sebab itu setelah dewasa selalu menjadi pertanyaan: sungguhkah kita sudah menjawab janji Allah dan taat kepada-Nya? Juga di samping itu ada penghiburan, bahwa Tuhan sudah menumpangkan tangan kepada mereka yang sudah dibaptis, sambil berkata: “Engkaulah milik-Ku” (Yesaya 43:1) (J.L.Ch.Abineno).
sunat dalam Perjanjian Lama diganti oleh baptis. Yang sama pada kedua tanda tersebut adalah janji Anugrah, bahwa Allah menjadi Bapa kita, pengampunan dosa dan hidup yang kekal. Yang tidak sama adalah upacara lahiriah.
Anak-anak orang Yahudi “Benih yang kudus”. Mereka telah dijadikan ahli waris Perjanjian. Mereka dibedakan dari anak-anak orang tidak percaya. Maka dengan alasan yang sama anak-anak orang Kristen dianggap kudus. Jika Tuhan setelah mengadakan perjanjian dengan Abraham, kemudian menyuruh memetraikan di dalam anak-anak kecil di dalam sakramen lahiria, maka sekarang seharusnya orang Kristen memetraikan anak-anaknya dengan baptis. Atas dasar perjanjian baptisan yaitu tanda perjanjian itu, mereka juga harus dimasukkan ke dalam gereja Kristen sebagai anggota tubuh Kristus, dan dibedakan dari anak orang yang tidak percaya (Katekismus Heidelberg). Baptis adalah metrai menjadi milik Allah; pewaris janji Allah; mengakui status anggota rumah tangga Kristen; Mereka dimetraikan dengan baptisan sebagagai pewaris janji-janji Allah. Dimetraikan dengan baptisan sebagai anggota tubuh Kristus. Menjadi anak-anak Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar